Surabaya, Cyberdakwah — Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur Dr Saifur Rahman, MPd mengajak SMK yang berada di bawah naungan Ma’arif NU untuk terus melakukan reformasi dan inovasi. Hal ini sebagai konsekuensi menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean atau MEA.
Penegasan tersebut disampaikan pada acara rapat koordinasi dengan seluruh kepala sekolah SMK yang berada di bawah naungan NU tersebut. Kegiatan dilaksanakan di Gedung Sabha Nugraha, Surabaya, Sabtu (19/9).
Menurutnya, hal paling utama sebagai sosok kepala SMK adalah harus memiliki jiwa entrepreneurship, khususnya bidang kejuruan. “Bagaimana memanfaatkan potensi yang ada, baik sumber daya dan peluang agar dikembangkan sehingga menjadi SMK yang lebih baik,” katanya.
Kegiatan kreatif yang sangat menunjang untuk dilakukan para pimpinan SMK antara lain bagaimana sekolah kejuruan melakukan pendekatan dengan industri dan dunia usaha serta kebutuhan masyarakat secara langsung untuk bersama mendesain pengembangan keilmuan kejuruan, lanjutnya.
Pola pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan akan semakin bermakna jika mengikuti perkembangan masyarakat. “Hal ini agar bisa menjamin bahwa lulusan SMK yang berada di lingkungan Ma’arif NU siap kerja,” tandasnya.
Ikhtiar yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut diantaranya menambah kurikulum. “Misalnya siswa kelas X dan XI difokuskan pembelajaran teori, kemudian jam pelajaran ditambah untuk praktek di laboratorium,” terangnya. Pada saat memasuki kelas XII, siswa kejuruan melakukan magang selama satu tahun di dunia usaha atau industri, sehingga ketika lulus siap masuk kerja, lanjutnya.
“Potensi warga NU dalam dunia industri saat ini patut diperhitungkan, terutama banyaknya pengusaha dan industrialisasi yang berhubungan dengan masyarakat NU,” ungkapnya. Karenanya sangat perlu melibatkan nahdliyin dalam pengembangan sekolah kejuruan. “Bahkan jika perlu, lakukan kerjasama untuk mendesain pengelolaan materi pendidikan bagi sekolah kejuruan yang berakar pada keinginan masyarakat,” tandasnya.
Di samping itu, sekolah kejuruan bisa mengajak dunia industri untuk menggabungkan potensi NU agar semakin banyak tenaga kerja dari kalangan Nahdliyin yang terserap.
Pola pikir ini menjadikan sekolah kejuruan harus berkembang. “Sebab, kita berada di tengah persaingan global dalam MEA yang antara lain harus dijawab dengan menyiapkan tenaga yang memiliki keterampilan dan didukung sertifikat profesi yang dikeluarkan lembaga profesional,” ungkapnya.
Dengan mengambil alokasi dana APBD, setidaknya ada 13 ribu siswa kejuruan di propinsi ini yang akan mendapatkan sertifikat profesi secara gratis. (s@if)