2:17 pm - Sabtu September 23, 2017

NU Bersyukur Presiden Tetapkan 1 Juni Hari Lahir Pancasila

495 Viewed

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengaku bersyukur dengan terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) yang menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Menurutnya, keputusan tersebut sudah tepat dan sesuai dengan pandangan NU.

Ia menyampaikan hal itu pada perhelatan Indonesia Bersyukur, Rabu (1/6) malam, dalam rangka peringatan hari lahir ke-71 Pancasila di Tugu Proklamasi, Jakarta, yang digelar Aliansi Ormas Sosial Keagamaan, Pemuda, dan Mahasiswa yang merupakan gabungan dari 31 ormas, termasuk NU.

Kang Said, sapaan akrabnya, mengatakan, tokoh NU sekaligus Menteri Agama era Presiden Soekarno, almarhum KH Masykur memberi kesaksian pula bahwa lahirnya Pancasila dimulai dari pidato Bung Karno pada 1 Juni. Keputusan tentang kepastian hari lahir Pancasila, menurutnya merupakan saat yang ditunggu-tunggu.

“Pancasia, hari kesaktiannya ada tapi hari lahirnya belum ada. Ini sakti sebelum lahir apa?” Kelakarnya di hadapan ribuan peserta yang terdiri dari rombongan berbagai ormas, seperti Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Pemuda Ansor, dan lain-lain.

Kang Said juga menegaskan, Pancasila merupakan ideologi pemersatu bangsa Indonesia yang sudah final. NU, katanya, pada Muktamar pada tahun 1984 secara resmi mendeklarasikan Pancasila sebagai asas tunggal yang sah secara syariat.

Bagi Kang Said, cinta tanah air (hubbul wathan) yang diajarkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari merupakan modal besar bagi bangsa Indonesia untuk menjaga keutuhan NKRI. Sejak Indonesia belum meredeka, tepatnya pada Muktamar tahun 1936, NU bahkan menunjukkan nasionalismenya dengan menyepakati Indonesia sebagai negara yang sah meski bukan negara Islam secara formal.

“Karena Islam itu untuk diamalkan,  bukan untuk dikonstitusikan. Islam untuk diimpementasikan bukan dipolitisasi,” ujarnya.

Hadir dalam kesempatan itu Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarno Putri, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD, para pemimpin pusat ormas, serta para tokoh, mahasiswa, pemuda, dan seniman budayawan.

Acara yang dimeriahkan pertunjukkan Reog Ponorogo ini juga diisi ikrar kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI. Sebagai pamungkas, peringatan hari lahir Pancasila perdana setelah terbitnya Keppres itu akan menampilkan pagelaran wayang selama semalam suntuk. (Mahbib)

Sumber : NU Online

21 Dawuh Habib Luthfi tentang Pancasila, Nasionalisme dan Merah Putih

Gus Dur, Tak Sudi Aku Cium Tanganmu!