4:11 pm - Jumat September 25, 2020

Ketika Emosi Dipelihara dan Diwujudkan [2]

1650 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

[Tentang ungkapan “meninggalkan pembalasan”]

Memaafkan merupakan salah satu sifat mulia dalam Islam. Sebagai seorang muslim yang baik tentu harus memiliki sifat pemaaf. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ayat di atas, bahwa salah satu prinsip Islam gampang memaafkan kesalahan orang lain. Menurut pemahaman Sayyid Alawi, ‘memaafkan’ adalah meninggalkan pembalasan kepada orang yang berbuat zhalim pada diri kita.

Arti meninggalkan pembalasan, seseorang yang memaafkan tidak hanya sekedar kata saja, tetapi juga ada wujud konkrit dari suatu sikap, yaitu tidak membalas dengan tindakan serupa yang telah dilakukan. Memang berat sekali memaafkan kesalahan orang lain, labih-lebih ketika kesalahan orang telah membuat emosi memuncak tinggi. Sehingga, tidak jarang orang begitu saja memaafkan, meski memaafkan dengan ungkapan, masih saja emosi berkorbar. Akibatnya rasa dendam untuk melakukan reaksi tetap membara dan kemudian diwujudkan dengan tindakan yang sama atau bahkan lebih parah.

Dari pemahaman Sayyid tersebut, sebenarnya maksud utama dalam memaafkan adalah menghilangkan rasa benci dan melupakan kesalahan orang lain yang telah terjadi. Kebencian yang muncul karena kesalahan orang lain, jangan sampai dipelihara dengan cara mengincar orang tersebut untuk melakukan reaksi. Melupakan kesalahan orang lain merupakan solusi ketika hidup ini terasa tidak nyaman karena kesalahan orang lain. Salah satu sebab kenapa seseorang kadang hidupnya terasa tidak nyaman, selalu saja ada masalah yang muncul, adalah karena sulit memaafkan kesalahan orang lain.

Memaafkan sebenarnya kunci utama untuk menjalani hidup dengan tenang, baik, dan indah. Kenapa hidup ini kadang tak pernah damai, karena kita sendiri tidak mau damai dengan orang lain. Atau lebih tepatnya, karena tidak mau mengajak hati sendiri untuk berdamai. Sehingga, hati yang seharus damai, tapi tidak merasakan itu, karena dalam hati masih ada rasa benci dan dendam pada orang lain. Hati yang damai itu lepas dari rasa benci dan dendam.

Dan juga, kenapa ada seseorang yang hidupnya seolah sempit dan sesak? Karena ketika ada orang yang berbuat salah padanya, dia tidak mau memaafkan. Semisal, ketika si B melakukan kesalahan pada si A, si A tidak mau memaafkan. Karena tidak mau memaafkan, tentu dalam hatinya ada rasa benci atau bahkan dendam. Ketika si A benci pada si B, pasti si A ada rasa ketidaknyamanan pada si B yang membuat si A kadang enggan untuk bertemu dengan si B. Sehingga si A selalu saja berupaya menghindar dari si B.

Coba bayangkan, andai saja dalam suatu lingkungan yang kita tempati ada beberapa orang yang tidak dimaafkan karena suatau kesalahan. Selalu menghindar atau tidak ingin bertemu dengan orang-orang tersebut karena benci. Ketika hendak keluar rumah atau menghadiri suatau acara, pikirannya enggan mau keluar atau hadir karena takut bertemu dengan orang-orang yang tidak dimaafkan. Sehingga, hanya bisa terdiam di dalam ruangan bersama rasa benci yang menggegoti hati yang kemudian menjadikan hidup ini terasa sempit dan sesak.

Demikian itu sebatas rasa benci, bagaimana jika kemudian rasa dendam kepada orang yang melakukan kesalahan dipelihara, sehingga ada rencana untuk melakukan reaksi? Jika hal ini yang terjadi di suatu lingkungan atau masyarakat, maka hidup ini menjadi tidak hanya tidak nyaman bahkan bisa hancur. Bayangkan saja jika setiap orang yang melakukan kesalahan dibalas juga dengan tindakan yang serupa. Andai saja ada beberapa orang yang melakukan kesalahan, lalu semua orang tersbut dibalas, atau orang yang dibalas juga tidak memaafkan sehingga saling membalas. Kira-kira apa yang terjadi di lingkungan atau masyarakat tersebut?

Jika di suatu lingkungan, komunitas, organisasi, bahkan Negara, tidak ada kenyamanan atau kedamaian yang bisa dirasakan, mungkin karena orang-orang yang ada di dalamnya masih memelihara kebencian atau menwujudkan dendam kepada orang yang melakukan kesalahan pada dirinya. Saling menjelekkan, saling menjatuhkan, saling sikut, dan saling serang merupakan contoh konkrit dari tidak mau memaafkan.

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Ketika Emosi Dipelihara dan Diwujudkan [1]

Ibadah; karena Pujian, Kewajiban, Surga, atau Rido-Nya

Related posts