11:18 pm - Selasa April 7, 2020

Dahsyatnya Basmalah!

1168 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Dahsyatnya Basmalah!

Ketika wahyu Ilahi, kalimat basmalah, turun kepada semesta, kandela – bias cahaya – menakjubkan setiap yang menyaksikan; awan kelam berarak menjauh ke arah timur, angin diam tak berhembus, laut tenang tak bergelombang, binatang jadi terhenyak, telinga yang bernyawa semua menyimak, dan syaitan pun terlempar kutuk; kala itu Allah Sang Maha Kuasa pun bersumpah dengan nama kemuliaan-Nya, dengan nama keagungan-Nya, bahwa tak kan pernah disebut nama-Nya atas segala sesuatu yang ada, kecuali semua menjadi berkah.
***
Sebegitu hebatkah kalimat basmalah? Bagaimana mungkin kalimat basmalah tidak memiliki kekuatan yang menakjubkan, jika ternyata kandungan maknanya teramat dahsyat?!
Apakah karena secara matematis huruf basmalah menggunakan bilangan prima 19, dimana bilangan tersebut secara matematika ditafsiri sebagai kunci rahasia sistem proteksi al-Qur’an dari upaya pemalsuan? Apakah hal ini benar-benar merupakan bagian dari master plan Allah dengan segala rahasia-Nya? Atau ada rahasia lain, sebagaimana yang juga diyakini, bahwa siapa yang ingin diselamatkan dari Zabaniyah yang berjumlah 19, malaikat berkarakter keras dalam menyiksa, maka bacalah bismillâhirrahmânirrahîm, niscaya Allah akan menjadikan setiap hurufnya sebagai benteng bagi si pembaca dari setiap Zabaniyah?
Bila kita telaah lebih seksama, kalimat bismillâhirrahmânirrahîm, lebih khusus kalimat bi ismi adalah berkaitan dengan kata kerja yang diperkirakan setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya kita membaca basmalah ketika hendak melangkah ke suatu majelis kebajikan, maka perkiraan kalimatnya secara lengkap adalah, “Dengan menyebut nama Allah aku melangkah ke majelis kebajikan…” demikian seterusnya, dengan berbagai jenis aktifitas yang ada. Fungsi kata kerja yang diperkirakan setelah kalimat bi ismi itu ada dua. Pertama adalah tabarruk, mengharap berkah, dengan mendahulukan asma Allah Swt. sebelum menentukan aktifitas apapun yang akan kita lakukan. Kedua adalah pembatasan maksud. Seolah kita berkata, “Aku tidak melakukan aktifitas apapun, dengan menyebut nama siapapun, untuk mengharap berkah dengannya, dan untuk meminta pertolongan darinya, selain nama Allah Swt.”
Dengan bertambah seksama lagi kita telaah, diketahui bahwa huruf bâ’ dari kalimat basmalah adalah lebih menunjukkan makna isti’ânah, meminta pertolongan hanya kepada Allah Swt. Bukankah Nabi saw. telah mengajarkan, “Idza ista’anta fa ista’in billâh!”, jika engkau meminta pertolongan, maka minta tolonglah kepada Allah! (HR. Tirmidzi) Pada isti’ânah ini terdapat makna memasrahkan segala daya dan upaya hanya kepada Allah semata, juga proklamasi rasa butuh diri kita sebagai seorang hamba kepada-Nya di kala tubuh kita menghasilkan gerak langkah aktifitas apapun, bagaimanapun, dan kapanpun. Sebagaimana kita telah meminta tolong kepada Dzat Yang Maha Kuasa, demikian pula kita meminta tolong melalui nama-nama-Nya yang mulia.
Lafzh al-Jalâlah (Allâh) merupakan nama bagi Allah, Tuhan semesta raya, selain Allah tidak boleh diberi nama dengan-Nya. Nama “Allâh” merupakan asal, adapun nama-nama Allah selain lafzh al-Jalâlah tersebut adalah cabang darinya. Penyebutan lafzh al-Jalâlah berkonsekuensi pada keluhuran, kekuasaan, dan lindungan-Nya (lihat QS. Al-Baqarah: 257).
Di balik pengucapan lafzh al-Jalâlah, ketika lisan kita melafalkan “Allâh” bila dikaji secara fisiologis, pengucapan huruf “A” dari lafzh al-Jalâlah adalah dapat melapangkan sistem pernapasan kita, serta berfungsi mengontrol gerak nafas dalam rongga dada. Kemudian saat mengucapkan huruf “Lâm” dari lafzh al-Jalâlah, kondisi ini dapat menimbulkan pengaruh yang nyata terhadap relaksasi pernapasan. Dan ketika mengucapkan huruf terakhir “H” dari lafzh al-Jalâlah, tepat pada saat kita melakukannya, hal ini telah membuat kontak antara paru-paru dan jantung, yang pada gilirannya kontak ini dapat mengontrol denyut jantung secara baik dan sempurna.
Adapun kata “al-Rahmân” adalah bermakna Dzat Yang memiliki kasih sayang teramat luas. Bentuk kosa kata ini menunjukkan makna keluasan yang berkonsekuensi pada cinta-Nya. Sedangkan kata “ar-Rahîm” adalah bermakna Dzat Yang mencurahkan kasih sayang kepada setiap hamba-Nya yang dikehendaki. Bentuk kosa kata ini menunjukkan makna terlaksananya kasih sayang tersebut. Di sini ada dua penunjukan kasih sayang, yaitu kasih sayang sebagai karakter Dzat Allah seperti yang terkandung dalam nama “al-Rahmân”, dan kasih sayang yang merupakan perbuatan Allah yang mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang disayangi-Nya, seperti yang terkandung dalam nama al-Rahîm.
Karena alasan itu juga, leluhur kita, manusia pertama dicipta atas bentuk pencitraan sifat al-Rahmân, sebagai cermin yang memantulkan seberkas cahaya dari Maha Cahaya, Sang Realitas Tertinggi. Esensi wujudnya adalah bertugas menjalankan peran kemanusiaan dengan mengatasnamakan Allah, bismillâh, atas nama kuasa-Nya; al-Rahmân al-Rahîm, yang berkarakter penuh kasih dan sayang. Karena sesungguhnya sebagai manusia, kita sedang memerankan rencana besar dari sejumlah skenario Ilahi di alam semesta, sebagai sosok yang berbakat untuk memahami berbagai pesan ketuhanan yang suci, bersama sejumlah perangkat kerja yang dimiliki dan efektifitas paripurna, agar menjadi objek firman-Nya yang mulia.
***
Apalah artinya kalimat yang kita ucapkan, bila tak disertai keyakinan. Karena sesungguhnya keyakinanlah yang menghubungkan rahasia makna basmalah yang kita ucapkan ke dalam hati, hingga menjadi potensi kekuatan yang maha dahsyat!
Kekuatan ini terdapat dalam jiwa orang mukmin sejati, jiwa yang disebutkan al-Qur’an, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni’mat) yang mulia.” (QS. Al-Anfâl: 2-4).
Cahaya iman seperti inilah yang kemudian mentransfer energi ruhani maha dahsyat pada setiap jiwa orang mukmin yang sejati dalam keyakinannya. Sehingga kalimat basmalah yang diucapkan mampu menghasilkan daya kekuatan sangat menakjubkan. “Gemetarlah karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar: 23) Suatu kekuatan bersumber dari energi ruhani bernama keyakinan, sebagaimana keyakinan para nabi, kaum shiddîqîn, kaum syuhadâ’, dan shâlihîn.
Namun, ketika kalimat basmalah bekerja, bukan berarti lompatan hirarki perjuangan harus terjadi, bukan pula harus terjadi mukjizat. Tidak. Basmalah bukanlah mantra bim sala bim para penyihir, akan tetapi kalimat ampuh yang bekerja sesuai hukum kausalitas, sunnatullâh di alam semesta, dengan nilai tambah keberkahan dan kedahsyatannya sebagaimana dirasakan oleh mereka yang telah benar-benar meyakininya. Basmalah adalah kata kerja, bukan kata sifat yang hanya bertumpu menumpang pada suatu entitas lain.
***
Tatkala Allah Swt. mewahyukan kalimat basmalah kepada Adam as., bapak umat manusia, ia terkesiap takjub, lalu berkata, “Wahai Jibril, nama apakah ini yang langit dan bumi tegak dengannya, air mengalir dan gunung terpancang dengannya, kemudian menetap berada di bumi, hingga hati kecil setiap makhluk menjadi kuat dengannya?!”
Bapak umat manusia kedua, Nabi Nuh as. tatkala hendak mengarungi bandang besar dengan bahteranya yang menjadi legenda sepanjang sejarah, ia berseru kepada kaumnya, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya, bismillâh, dengan menyebut nama Allah, di waktu berlayar dan berlabuhnya.” (QS. Hûd: 41). Hanya dengan separuh kalimat saja, Nabi Nuh as. dan kaumnya selamat. Lalu bagaimana dengan yang sepanjang hidupnya membaca kalimat tersebut secara kontinu dan sempurna, mungkinkah ia akan terhalang dari keselamatan abadi?
Dikisahkan juga bahwa tatkala Nabi Musa as. mengalami sakit, Allah Swt. berfirman kepadanya, “Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah racun yang mematikan, sedangkan penawarnya adalah nama-Ku!”
Bacalah kemudian kisah Nabi Sulaiman as., tatkala mengirim surat kepada Ratu Balqis, penguasa bangsa Saba’, kaum penyembah matahari, melalui seekor burung Hud-hud. Ketika sepucuk surat terlempar jatuh dari udara, diambilnya surat itu oleh Balqis, matanya menatap tajam, bibirnya bergerak mengeja, “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya (isi)nya, ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bahwa janganlah kamu sekalian bersikap sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.'” (QS. An-Naml: 30-31). Setelah dibacanya surat itu, Ratu Balqis memanggil para pembesar dan penasihat kerajaan untuk berkumpul memusyawarahkan tindakan apa yang harus diambil sehubungan dengan surat Nabi Sulaiman as. tersebut. Para pembesar kerajaan menyatakan kesanggupan mereka untuk berperang, tidak akan gentar menghadapi segala ancaman dari mana pun datangnya demi menjaga keselamatan dan keselamatan kerajaan. Usai ditolak dengan tegas diplomasi pengiriman hadiah, Balqis berpikir, bahwa tak ada jalan terbaik untuk menyelamatkan diri dan kerajaannya kecuali menyerah saja kepada tuntutan Sulaiman dan datang menghadap ke istananya. Maka, setelah mengalami kegentaran psikologis, enggan dengan kekerasan, atau bahkan – lebih tepatnya – cemas akan kerusakan dan kehancuran yang mengancam peradaban Kerajaan Saba’, Ratu Balqis pun datang lengkap dengan kekuatan penuh, kekuatan materi duniawi; memasrahkan diri, takluk, tunduk kepada kekuasaan Nabi Sulaiman as., kekuatan spiritualnubuwwah, kekuatan iman. Sekali lagi, semua ini memperlihatkan bagaimana efek kekuatan basmalah sebenarnya.
Dan pada akhirnya, renungkanlah kisah Baginda Nabi Muhammad saw. di awal perjuangan risalahnya ketika diperintah untuk membaca dengan menyebut nama Tuhan Yang telah menciptakan, iqra’ bismi Rabbika al-ladzi khalaq. Dengan kalimat basmalah Baginda mulai melangkah, hingga menuai berkah, mengantarkannya kepada puncak kesuksesan Fathu Makkah, pembebasan kota Makkah, penyucian Baitullâh dari berhala-berhala. Karena sejak peletakan batu pertama revolusi Islam, Baginda Nabi saw. telah memulai dengan basmalah, maka kedahsyatan efektifitasnya kemudian mampu menggemparkan segala peradaban yang kala itu ada, peradaban Timur dan Barat, dari India, Persia, sampai Romawi. Seperti sentuhan lembut ujung jari yang mampu membuat gelombang perubahan di atas permukaan air yang tenang, gerakannya merubah sekian banyak ideologi dan kepercayaan. Memberi cahaya pengetahuan dan kebenaran kepada kelam kejahiliyahan peradaban.
Bukan dengan “atas nama bangsa” atau “atas nama seseorang” seharusnya kita membangun sejarah peradaban umat manusia, tetapi dengan basmalah, dengan Nama Allah Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa, peradaban akan terbentuk dari masyarakat sosial yang berkeadilan, berkemanusiaan, beriman dan bertakwa, terbangun penuh berkah.
***
Suatu ketika Baginda Nabi saw. ditanya tentang hakikat kalimat basmalah, beliau pun menjawab, “(Basmalah) itu adalah nama dari nama-nama Allah, jarak antara basmalah dan ismullâhi al-akbar (nama Allah yang teragung) laksana jarak antara lingkar hitam kedua mata dan bagian putihnya, karena sangat dekat.”

Basmalah adalah rahasia Ilahi yang diketahui hanya oleh orang-orang pilihan yang sejati. Basmalah adalah perisai penyelamat dan pakaian yang melindungi kita, umat manusia, menghalangi dari pandangan jin yang memiliki potensi membuat malapetaka. Namun, kekuatan kalimat ini sebenarnya kembali kepada segumpal daging di dalam tubuh kita, segumpal hati dengan kekuatan keyakinannya yang istimewa, karena wa kullu man lam ya’taqid lam yantafi’, setiap orang yang tidak meyakini, maka tak akan bermanfaat!
***
Ketahuilah, semesta ini, seluruhnya, adalah gesture, lambang atau rumus yang menunjuk pada nama-nama Allah. Sedangkan setiap nama-Nya adalah menunjuk pada seluruh sifat-Nya yang kudus. Dan seluruh sifat-Nya adalah menunjuk pada keharusan eksistensi Dzat Allah, wujud-Nya Yang Maha Esa, karena tentu saja mustahil suatu sifat tegak sendiri tanpa adanya dzat. Maha Sucilah Yang bila seseorang berdzikir menyebut-Nya, maka ia menjadi mulia sebab dzikir tersebut!
Setiap sesuatu yang tercipta, dari yang terkecil sampai yang terbesar, dengan lisân al-hâl, bahasa tubuhnya, semua berdzikir, berkata, “Bismillâh.” Atom, setiap satuan massa, molekul yang bersenyawa, semua yang berada pada kesinambungan gerak proton dan neutron dalam setiap partikelnya. Sel-sel makhluk hidup. Sebagaimana gerak putaran bumi, bulan, dan matahari pada porosnya. Sebagaimana kinerja bintang-bintang dari ledakan nova hingga supernova. Sekali lagi, seluruhnya berputar, bergerak, berdzikir dengan bahasa tubuhnya sendiri-sendiri, berseru, “Bismillâh.” Gerak segala sesuatu hanyalah ada, tercipta, dengan atas nama Allah. Bismillâhirrahmânirrahîm, dengan atas nama-Nya Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.
Bukankah awal mula wahyu yang difirmankan Allah Swt. kepada Sang Pena adalah perintah, “Tulislah!”
Kemudian ketika itu Sang Pena bertanya, “Wahai Tuhan, apa yang harus aku tulis?”
Maka Allah Swt. pun berfirman, “Bismillâhirrahmânirrahîm.” Bergoncanglah Sang Pena karenanya. Dan ketika kalimatbasmalah ditulis, maka bergoncang pulalah Arasy karenanya.
Akhir kata, di saat zaman memperlihatkan fitnah yang semakin menantang, kita mesti segera bersikap, dengan semangat penuh kayikanan berucap bismillâh namsyî ‘alâ barakâtillâh, dengan nama-Mu yang terindah, hamba melangkah atas berkah-Mu yang melimpah…

Oleh : KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Ukhti, belajar jadi shalihah yuk!

Inilah Alasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam Tutup Wadah Air

Related posts