3:03 pm - Minggu Agustus 24, 6623

Pola Pendidikan Pesantren adalah Warisan Rasulullah

829 Viewed
Pola pendidikan pesantren dengan sistem pondok telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Hal ini dinyatakan oleh Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Akhyar saat memberikan materi dalam kegiatan Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di Jakarta.
Dalam forum yang dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ini, Kiai Miftah menceritakan bahwa dahulu Rasulullah mengumpulkan sekaligus memondokkan sekitar 400 sahabat di Suffah yang secara rutin mengadakan pengajian dan transfer ilmu.
“Keterangan tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda, siapapun nantinya yang meneruskan thalabul ilmi sebagai amanat ilmiah, maka mereka itulah teman-temanku di surga,” terang Kiai Miftah yang hadir bersama Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi dan Waketum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz.
Sebagai warisan Rasulullah, lanjut Kiai Miftah, pesantren secara konsisten memberikan pengajaran dan pemahaman Islam yang baik dan benar dengan sumber kitab-kitab klasik karangan berbagai ulama masyhur.
“Selain mencetak generasi mandiri, pesantren juga menghasilkan generasi yang pinter dan bener,” ujarnya.
Dalam konteks Ma’had Aly, imbuhnya, lembaga pendidikan tinggi di pesantren ini harus tetap mewarisi karakter pesantren yang senantiasa menjunjung tinggi keilmuan dan menjaga tradisi yang baik dari para pendahulu (sahabat Nabi dan para ulama).
Kiai asal Jawa Timur ini menegaskan bahwa prinsip ilmu agama yang nanti dikembangkan di Ma’had Aly jangan lepas dengan konteks masyarakat global. Karena menurutnya, perubahan di masyarakat merupakan ayat-ayat Kauniyah dalam sudut pandang teologis.
Lebih jauh, Kiai Miftah menjelaskan, pendidikan di lingkungan pondok pesantren saat ini menghadapi berbagai tantangan globalisasi dengan liberalisasi di berbagai bidang.
“Oleh karena itu, penyusunan kurikulum bisa diarahkan pada 3 pokok meliputi, Grand Strategi, Grand Design, dan Grand Control. Hal ini agar produk pendidikan pesantren tetap menemui relevansinya dengan perubahan masyarakat di zaman global. Karena secara keilmuan, pesantren sebetulnya sudah mendunia dengan mengkaji berbagai literatur ulama-ulama dunia,” papar Kiai Miftah.
Seperti diinformasikan sebelumnya bahwa Kementerian Agama telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang Izin Pendirian Ma’had Aly pada Pondok Pesantren, Ahad (29/5/2016) lalu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ada 13 Ma’had Aly yang telah menerima SK dan masing-masing membuka satu dari 6 pilihan program studi, yaitu Sejarah dan Peradaban Islam, Fiqih dan Ushul Fiqih, Tafsir dan Ilmu Tafsir, Hadits dan Ilmu Hadits, Aqidah dan Filsafat, serta Tasawuf dan Tarekat. (Fathoni)
Sumber : Nu Online

Mengingat Mati dengan Berziarah Kubur

Keistimewaan bagi Para Penimba Ilmu di Bulan Ramadhan