Menyentuh Hati, Ketua STAI Darul Hikmah Ingatkan Makna Kemerdekaan!

0
1141

Meulaboh – Suasana Masjid Agung Meulaboh pada Jumat, 15 Agustus 2025, begitu khusyuk ketika Dr. Tgk. Rahmat Saputra, Ketua STAI Darul Hikmah sekaligus Wakil Ketua HUDA Aceh Barat, menyampaikan khutbah yang mengajak jama’ah untuk merefleksikan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia dan 20 tahun perdamaian Aceh.

Dengan suara bergetar, ia mengawali khutbah dengan mengajak jamaah mendoakan rakyat Palestina. “Indonesia telah merdeka, tapi saudara-saudara kita di Palestina masih hidup di bawah penjajahan, penindasan, dan pembantaian. Padahal, kemerdekaan adalah hak segala bangsa,” ujarnya seraya mengajak jamaah untuk berdo’a & membacakan Al-Fatihah bersama untuk kemerdekaan Palestina.

Dr. Rahmat kemudian mengingatkan, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah buah dari pengorbanan para pahlawan bangsa dan rakyat Aceh yang telah rela berjuang tanpa kenal lelah, dengan darah dan air mata. Tetapi baginya, makna kemerdekaan tak berhenti pada lepasnya penjajahan atau berakhirnya konflik bersenjata.

“Kemerdekaan dan perdamaian sejati adalah ketika kita terbebas dari kebodohan, kemiskinan, penyakit, kerusakan moral, dan ketidakadilan sosial,” tegasnya.

Dalam khutbahnya, ia juga menyentuh persoalan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera ditangani. Dalam bidang pendidikan, Dr. Rahmat menyoroti pentingnya pemerataan akses pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas harus bisa dirasakan oleh seluruh anak bangsa, buka hanya orang kaya, karena menurutnya pendidikan berkualitas dapat mengubah masa depan.  

Dalam hal kesehatan, ia prihatin terhadap banyaknya anak muda yang sakit kronis, bahkan ada yang harus menjalani cuci darah di usia muda. Ia juga mengajak masyarakat membangun budaya hidup sehat melalui makanan yang sehat, olahraga rutin dan membiasakan berjalan kaki. Ia juga mengajak para dokter & pegiat kesehatan untuk bersuara mengajak dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan.

Dalam bidang ekonomi, ia menyoroti banyaknya masyarakat yang terjebak dengan judi online, investasi bodong serta pinjaman ilegal yang menjerat masyarakat. Disisi lain generasi muda juga dihadapkan dengan minimnya lapangan kerja.  Ia memberikan solusi kongkrit dengan memotivasi generasi muda untuk membangun UMKM dengan memberikan edukasi, inkubasi/pendampingan & modal  usaha yang dapat dialokasikan melalui anggaran daerah atau dengan mengoptimalkan dana CSR untuk rakyat.

Ia juga menyoroti menjamurnya Indomaret & Alfamart di Aceh Barat, walaupun sejak beberapa tahun lalu telah ada wacana untuk membatasi retail modern ini di Aceh Barat yang tujuannya untuk melindungi UMKM & pedagang kecil.

“Peluang yang dapat dioptimalkan sekarang adalah bagaimana produk UMKM Aceh Barat yang telah terstandarisasi bisa dipasarkan melalui semua jaringan Indomaret & Alfamart yang ada di Aceh Barat, tentu ini perlu difasilitasi oleh pemerintah,” ujarnya.

Namun, di balik semua keprihatinan itu, Pimpinan Dayah RUMI ini juga memiliki keyakinan dan harapan. Baginya, kemerdekaan adalah tentang saling peduli, berbagi, dan membangun bersama. “Andaikan orang kaya mau berbagi, tidak ada rumah tak layak huni. Tidak ada fakir miskin di bumi Serambi Mekah ini,” ucapnya dengan nada lirih.

Khutbah itu mencapai puncaknya ketika Dr. Rahmat mengajak seluruh jama’ah untuk merawat perdamaian Aceh.  “Jangan sampai perpecahan & masalah lama muncul kembali dalam bentuk yang baru. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” suaranya menggema, membuat masjid hening penuh perenungan.

Hari itu, khutbah Jum’at bukan hanya pesan agama. Ia berubah menjadi refleksi/cermin yang memantulkan wajah Aceh hari ini: sudahkah kita benar-benar merdeka? Sudahkah perdamaian ini kita jaga?

Pertanyaan itu, meninggalkan jejak dalam hati jamaah yang hadir bahwa kemerdekaan bukan sekadar perayaan atau peringatan, melainkan amanah besar untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan