6:44 pm - Rabu September 23, 2020

[Cerpen] Menjaga Muru’ahmu, Itu Dakwahku!

1820 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Fauziah tertunduk lesu, dalam hatinya menggeram, namun mentalnya yang lemah tak bisa berbuat apapun. Tubuhnya tersandar di sebuah tumpukkan kayu bakar yang tersusun pada sebuah gudang. Dalam benaknya berpikir inilah konsekuensinya. Dia telah memilih jalan sebagai seorang penyanyi untuk mengisi hidupnya. Satu lagi beban merasuk otaknya berakumulasi menjadi sebentuk endapan yang menggumpal.

“Tak bisa jika kau menyanyi dengan dandanan seperti itu. Tak kan ada yang mau menonton. Order kita akan sepi, lama-lama akan bangkrut!”, seorang lelaki berkata-kata setengah membentak.

Hati Fauziah semakin kalut. Tak berani melawan perkataan lelaki itu. Kini dilema itu membentang. Kehormatannya sebagai seorang muslimah dipertaruhkan. Walau imannya hanya setengah-setengah namun keyakinannya sangat kuat. Melankolisnya membuatnya hanya tertunduk diam.

“Ini bagianmu hari ini!”, lelaki itu berlalu sambil melempar seonggok uang kehadapannya.

Melihat lelaki itu berlalu. Fauziah segera mengambil uang itu dan bergegas keluar.

***

 “Apa!? Jangan kau turuti. Kau pasti tahu, bagaimana resiko jika kau melepas jilbab”, kini seorang lelaki lain mengomentari ceritanya.

“Zi, islam mengajarkan kita untuk mempertahankan kehormatan”, lelaki itu menambahkan.

“Aku tahu. Tapi apa yang harus aku lakukan Bang? Ini satu-satunya pekerjaan yang bisa kulakukan untuk menghidupi keluargaku.”

“Hah, keluarga? Kau sebut itu keluarga! Ibu angkatmu itu hanya memanfaatkanmu saja. Kerjanya cuma meminta-minta, apa pernah dia memberikan perihal kasih sayang sedikitpun?”

“Jangan kau menjelek-jelekkan ibu Bang…”

“Aah, tambah pusing pikiranku. Belum selesai masalah si Azwar, sudah ada lagi permasalahan kaya gini!”.

“Zi, bilang sama si Joko gemblung itu! Daripada lepas jilbab, lebih baik kamu keluar saja. Masih ada kerjaan lebih baik daripada sekedar menyanyi. Aku tak mau adik tersayangku tubuhnya dinikmati banyak orang. Dan aku tak habis pikir, kenapa kau masih saja bermimpi menjadi seorang artis. Padahal kau tahu sendiri bagaimana dunia selebritis itu sekarang.”

“Lalu bagaimana lagi bang? Kau tahu aku sebatang kara di dunia ini”.

“Aku akan bilang sama si Joko. Aku akan memaksanya menghapus namamu dari daftar penyanyi”.

“Jangan Bang. Itu bukan solusi yang tepat. Tidakkah kau bisa mencari cara lain”.

“Lalu bagaimana lagi? Capek aku menghadapi persoalanmu. Baiklah, lebih baik kau pertimbangkan dulu masak-masak saranku tadi. Aku mau pergi dulu, sudah telat ditunggu pak Mandor”.

Zulkarnaen berlalu. Dirumah yang ia singgahi bersama Ibu angkatnya itu Fauziah coba berpikir dan merenungkan permasalahannya. Setidaknya ada kata bijak yang ia tangkap dari kakak sepupunya tadi, “…. Daripada lepas jilbab, lebih baik kamu keluar saja. Masih ada kerjaan lebih baik daripada sekedar menyanyi. Aku tak mau adik tersayangku tubuhnya dinikmati banyak orang…”. Ya, benar. Pekerjaannya saat ini memang menimbulkan resiko banyak lelaki yang melirik-lirik dan dapat menimbulkan fitnah. Meski memang latar belakang keluarga Fauziah bukanlah berasal dari keluarga yang islami, namun ia kini menjadi sosok wanita yang sholehah atas bimbingan kakak sepupunya itu. Zulkarnaen mengajarinya pengetahuan agama hingga ia memutuskan berkerudung semenjak kelas 3 SMP. Wanita sholehah bak mutiara yang hanya berjumlah sedikit di antara luasnya samudera, sehingga perlu dipelihara dan disucikan. Setiap bagian tubuh wanita adalah sangat berharga dan suci, sehingga perlu ditutup. Itulah kata-kata yang dulu pernah dikatakan Zulkarnaen yang membuatnya saat itu tertarik untuk berkerudung.

Kini pikiran Fauziah sangat kacau, belum selesai permasalahan cintanya dengan Azwar. Seorang lelaki yang dicintainya. Zulkarnaen pun menyuruh Fauziah untuk bersikap tegas sebagai seorang wanita. Islam tidak memperbolehkan berpacaran, dan prinsip itu pula yang dikuatkan Azwar. Meski mereka tak berpacaran namun, keberadaan Azwar membuat hati Fauziah berbunga-bunga sehingga membuat kakaknya itu khawatir adiknya tak bisa realistis dan sangat mengharapkan Azwar menyukainya, kemudian dalam kenyataan Azwar ternyata tak memiliki rasa apapun, sehingga Zulkarnaen menyuruh nya untuk menjauhi lelaki itu. Di tengah kepenatannya itu, ia beranjak ke sebuah masjid. Tempatnya menghilangkan kegundahan dan memasrahkan kepada sang pencipta segala permasalahannya. Keagungan Allah terasa nyata saat ia menjamah masjid yang cukup besar itu. Suatu bangunan megah yang selalu terlindungi. Usai melaksanakan shalat sunnah, Fauziah melantunkan ayat kursi. Untaian ayat kursi yang dibacanya menenangkan hatinya serta merta. Mengagungkan Allah, tempat kembali segala bentuk cintanya. Dalam hati kecilnya ia hanya berharap yang terbaik dari Tuhan semesta alam. Perihal jodoh dan pekerjaan yang akan dipilihnya. Begitulah sikap seorang muslimah dalam benaknya.

***

Fauziah baru saja pulang dari pasar. Dalam perjalanannya melewati sebuah masjid ia tak sengaja melihat Azwar yang tampak baru saja menyelesaikan shalat berjama’ah.

“Mas Azwar!”. sahut Fauziah.

Azwar menengok sumber suara. Tampak dimatanya Fauziah dengan wajah sumringah. Dia menengok kanan dan kiri seperti memastikan tiada mata-mata yang memandang.

“Zi..dari mana kamu?”

“Dari pasar mas, mas Az..boleh kita berbicara sesuatu yang penting?”

Azwar setengah penasaran, “Tampaknya serius sekali? Boleh saja, Zi mau ngomong apa?”

“Tidak bisa disini mas, kita cari tempat lain”.

“Lho kalo gak terlalu panjang waktunya ya disini saja…”

“Enggak mas, harus di tempat lain. Disini nanti takut ada fitnah lagi”.

Azwar diam sejenak memahami maksud Ozi. Lalu mengangguk tanda setuju.

“Kapan? Dimana?”

“Dirumah Zi, nanti malam ba’da isya. Mas Azwar ajak mas Alfin”.

“Insya Allah”.

***

 

Bersama Alfin, Azwar menemui rumah Zi.

Fauziah menceritakan segala permasalahannya tentang Ibu tirinya yang memaksanya melepas jilbab demi pekerjaannya sebagai penyanyi. Di satu sisi dia harus bias menafkahi keluarganya namun di sisi lain dia juga harus mengutamakan aqidahnya.

“Kau sudah berbicara baik-baik dengan ibumu?”, tanya Azwar.

“Sudah mas, nihil. Ibu itu orangnya keras kepala. Kalau sudah pendapatnya ya tidak bisa diubah lagi.”, kesal Fauziah.

“Zi.. mas mau tanya..sepenting apakah kerjaan menyanyi itu untukmu?”

“Pentinglah mas, untuk menghidupi keluargaku. Ayahku sudah lama meninggal, ibu sudah sakit-sakitan. Sekarang akulah yang menjadi tulang punggung keluargaku…!”

“Kan masih ada pekerjaan lain yang lebih baik. Bukan aku merendahkan pekerjaan sebagai penyanyi. Namun jika itu mempertaruhkan aqidahmu sehingga kamu harus melepas kerudung sepatutnya kamu cari kerjaan lain saja Zi“, saran Alfin.

Fauziah diam sejenak. Benar apa yang dikatakan Alfin.

“Ibuku yang memaksa Mas Alfin”, kesah Fauziah kali ini dengan mata berkaca.

“Mengapa kau tidak coba mencari suami?”

Fauziah terperanjat. Pertanyaan Azwar memicu rasa berdesir dalam hatinya. Melebihi segala sesuatu yang paling mengejutkan baginya. Disisi lain timbul dihatinya rasa harap-harap cemas akan kelanjutan kata-kata yang keluar dari mulut Azwar. Sesuatu yang dinantinya, disisi lain perasaannya mencoba netral tak berharap apapun.

“Maksud mas?”

“Kamu carilah seorang suami yang bisa menafkahimu dan keluargamu. Jadi tak perlu kerja sendiri sekeras ini. Bukankah kamu sudah cukup umur untuk menikah? ”

“Lalu dengan siapa? Saya tidak punya calon mas”

“Aku akan menikahimu!”

“Apa mas?”

“Aku siap menjadi qawammu. Pemimpinmu, memberi nafkah lahir dan batin untukmu Zi”

Perkataan terakhir Azwar mengejutkan Alfin dan Fauziah. Kata-kata yang sangat tidak terduga bagi semua orang yang mungkin jika mendengarnya juga. Sedetik Fauziah terdiam, namun perlahan ia mampu mengendalikan perasaan dan dirinya lalu menyikapi perkataan Azwar tadi.

“Lho mas Azwar ini lho bercanda sukanya”

“Iya..lho kamu itu ngomong dipikir to Az ? Kamu serius ngomong gitu?”, kini Alfin turut berbicara.

“Jika dengan menikahimu bisa menyelamatkan maruahmu. Mencegahmu dari terbukanya hijab dan hilangnya kehormatan. Insya Allah , Allah lebih meridhoi pernikahan karena Allah dan kebenaran serta keselamatan umat dan islam”.

“Aku mengerti mas..tapi bukan hanya itu yang menjadi syarat sah nikah. Cinta dan keridhoan juga perlu”.

“Aku menyukaimu dan mencintaimu Zi.”, lugas Azwar.

Pernyataan yang menggetarkan hati Zi sehingga serasa seperti terbang melayang. Namun, sedetik kemudian Zi bias kembali mengontrol perasaan dan sikapnya.

“Sebaiknya kamu pikirkan dulu tawaranku. Sekarang sudah mau larut malam. Mas dan alfin pulang dulu. Wassalamualaikum”.

Waalaikumsalaam, jawab Zi.

Alfin dan Azwar berlalu. Kini Fauziah berada pada keadaan yang tak tentu, antara terbang melayang dan berpijak di bumi. Sulit baginya menerima apa yang terjadi tadi. Bukan sesuatu yang mengharukan, namun sesuatu kebahagiaan membuncah dimana seseorang yang diharapkannya dan dicintainya secara terus terang menyampaikan niat dan isi hatinya yang tentu sangat diharapkannya. Lugas, tegas dan berani, sikap yang membuatnya menyukai Azwar. Tanpa mencoba basa-basi dengan menawarkan praktek pacaran yang banyak dilakukan oleh remaja zaman sekarang. Dia mencoba tenang, membaca beberapa ayat Al Quran yang dihafal serta beberapa lafal dzikir. Ingat, semua yang terjadi baik bahagia maupun duka hati harus tetap kembali padaNya.

“Hanya dengan mengingatNyalah hati menjadi tenang”

***

“Kau percaya padanya?”, sahut Zulkarnaen.

“Dia seorang shalihin, maka aku percaya akan niatnya”, jelas Fauziah.

“Terimalah dia, itu saranku. Kita berdua mengenal bagaimana Azwar dan niat sucinya. Jangan kecewakan niatnya, jadilah istri shalehah untuknya.”.

Fauziah menangis, antara bahagia dan lara. Bahagia tiada ujung karena orang yang dicintai dan didambanya telah mengkhitbahnya untuk menjadi istrinya, lara karena pasti sehabis ini ada proses kesulitan lain yang harus dihadapinya yakni, restu Ibu tirinya. Tak mudah pastinya, namun melihat restu Zulkarnaen sebagai kakak sepupu sekaligus satu-satunya keluarga yang perhatian padanya serta sorot teduh mata Azwar kala mengatakan cinta padanya adalah sebuah kekuatan yang dipancarkan oleh kuasa Allah sehingga meneguhkan ikhtiarnya.

Zulkarnaen mengajak Fauziah menemui Azwar di rumahnya. Setelah sampai, Zulkarnaen meminta keseriusan kata-kata Azwar pada adiknya malam itu. Dengan sikap seorang lelaki, Zulkarnaen yang bertubuh tegap meminta pada Azwar agar menyatakan keseriusan menikahi adiknya pada ibu tirinya juga. Meski ia hanyalah ibu tiri, namun tetap saja Fauziah membutuhkan restunya.

***

            Sepertiga malam terakhir, kala hening, dalam sunyi dua hati saat itu telah terjaga  dari tidurnya di tengah para manusia sedang terlelap dalam nikmat tidur. Kedua hati itu saling memanjatkan doa kepada Rabb semesta alam. Istikharah, menyerahkan pilihan kepada Allah Azza wa Jalla, Sang Kreator, Sang Penentu Takdir. Mereka sadar, tentunya yang terbaik untuk hambaNya lah yang pasti diberikan.

***

            “Kan kutunjukkan padamu Zi, keindahan islam dalam menyikapi cinta. Bukan dengan hubungan illegal non mahram yang sejatinya mengotori tiap pribadinya masing-masing.”, Azwar menjelaskan niatnya.

“Tapi mas, tak harus kau secepat ini memutuskan”, Fauziah coba menyela.

“Tidak Zi, mas tidak terburu-buru seperti banyak orang sangka. Mas telah lama menyukaimu. Beberapa waktu setelah mas mengenalmu. Jika menjaga maruahmu adalah terbaik bagiku, itulah bagian dari dakwahku”, sahut Azwar.

“Apakah kau mencintainya?”, sebuah suara datang dari arah ruang tengah menuju ruang tamu.

“Saya bukanlah lelaki yang pandai mengidentifikasi rasa. Tapi yang saya tahu, bahaya jika telah timbul syahwat rasa suka yang dapat mengotori kesucian pandangan. Ketika seorang lelaki menyukai wanita yang bukan mahramnya. Sesuai syariat yang diajarkan Rasulullah SAW. Maka, untuk menjaga hati, pernikahan adalah solusi yang tepat.”

“Tapi apakah kau yakin Fauziah mencintaimu atau tidak?”

Sekejap, Fauziah dan Azwar tercekat.

Dengan wajah teduhnya yang penuh guratan keyakinan, sambil menatap wajah Fauziah, Azwar menjawab pertanyaan tersebut. “Cinta atau tidak bukan itu intinya. Fauziah menerimaku itu tanda keikhlasan dan ketulusan dia. Jawaban istikharah berupa kemudahan dalam urusan perjodohan adalah tanda kebenaran pilihan. Cinta, ia bisa datang setelah pernikahan yang dijelaskan lewat ayat agungNya, litaskunu ilayha, waj’alna baynakum mawadatawarahmah, dianugerahkan ketenangan padanya, serta kasih dan sayang. Itulah doa dari para undangan bagi pasangan yang menikah. Jika kedua mempelai telah berproses secara syar’i dalam menjemput jodoh, pastinya berkah Allah lewat keharmonisan rumah tangga akan hadir. Pastinya memang tak akan bebas dari kendala rumah tangga karena hakikatnya pernikahan juga adalah bagian dari hidup itu sendiri yang penuh cobaan dan ujian. Tapi saya yakin, pasangan yang diberkahi Allah akan selalu menyikapinya dengan iman”, Azwar yang notabenenya adalah lulusan pesantren menjelaskan secara runtut perihal pernikahan dalam islam.

“Hehehehehehe….aku salut dengan tekadmu Az. Tapi menikahi Fauziah hanya karena agar dia terbebas dari pekerjaan menyanyinya adalah pemikiran yang sempit”, tukas Ibu Rani. Sang ibu tiri Fauziah melanjutkan pertanyaannya akan keseriusan Azwar.

“Tidak ibu, seorang pecinta sejati akan memendam rasa cintanya saat belum mampu dan belum ada kesempatan untuk menikah, sehingga saya dulu tak pernah mengatakannya. Kini, saya telah mampu dan melihat kesempatan yang lebih agung. Yakni menikahi Fauziah saat kehormatannya sebagai muslimah terancam. Sebagai lelaki, pemimpin wanita, melindungi kehormatan dan kesucian seorang wanita adalah kewajiban. Tentunya dengan cara yang halal. Dalam kondisi ini niat menikahi Zi adalah pilihan tepat, insya Allah bagi saya.”

Kata-kata Azwar membuat mata Fauziah berkaca-kaca hingga tak terasa air mata membasahi pipinya. Fauziah terisak, isakkan yang berbeda. Dalam hatinya tak disangka, seorang lelaki yang didambanya adalah memang lelaki shalih yang memiliki pemikiran dan pandangan luar biasa. Niat suci yang langka dimiliki manusia biasa di zaman ini. Isaknya tentunya dilihat orang-orang di ruang tamu rumah Ibu tiri Fauziah. Alfin, Zulkarnaen, Ayah dan ibu Azwar serta ibu tiri Fauziah. Mata Zulkarnaen pun berkaca-kaca.

“Azwar, saya titip agama dan iman adikku”, ujar Zulkar dalam guncangan dadanya karena isak kecil dan juga dalam rasa bangganya melihat Azwar.

“Demikian niatan kami ibu Rina. Kami menyampaikan maksud melamar Fauziah untuk anak kami Azwar”, Haji Hasan, ayah Azwar menyampaikan maksudnya.

Zulkarnaen menatap wajah dan sorot mata ibu Rina, dalam hatinya berharap ia menerimanya. Dzikir dan doa menjadi pengihas lisannya saat ini.

Ibu Rina masih terdiam. Niat dan tekad Azwar dengan ilmu agama yang dimilikinya membuat hatinya tersentuh. Selama ini dalam sifat kerasnya Ibu Rina sebenarnya memiliki sifat lembut, mencintai dakwah islam seperti yang dimiliki almarhum suaminya. Namun, ketika suaminya meninggal, hatinya mulai dipenuhi aktivitas-aktivitas dunia yang membuatnya selalu berambisi meraih harta. Azwar tentu mengingatkannya pada almarhum suaminya tersebut. Kini, dalam hatinya dia berharap memiliki lagi keluarga kecil imani. Bersama anak tirinya, Fauziah yang juga tergolong shalihah.

“Baik, saya terima”, ujar Ibu Rina.

Jawaban yang serta merta memuaskan orang-orang di ruang tamu tersebut.

“Azwar, namun tidak mudah bagimu. Ada syarat lain yang harus kamu penuhi”.

Semua mata terheran-heran dengan kalimat terakhirnya. Beharap suatu kemudahan dalam persyaratan tersebut.

“Kau tidak hanya menjadi pemimpin bagi Fauziah, tetapi juga aku. Sudikah kau membimbing keluarga kami dengan ilmu agama yang kau miliki?”

Azwar sejenak senyum sumringah. Permintaah yang berat, namun pertanda persetujuan bagi niatnya. “Insya Allah, Bu. Saya selalu siap dalam berdakwah, terutama berdakwah untuk keluarga ini. Insya Allah..insya Allah”, tutur Azwar.

Perkataan Azwar tersebut seolah menjadi akhir dari ikhtiarnya berproses  meminang Fauziah. Niat sucinya disertai proses istikharah yang panjang dan penuh pengorbanan perasaannya berakhir manis. Serta merta riuh kecil terpecah di ruang tamu itu. Ucapan hamdalah terdengar menjadi suara dominan. Dimulai sudah sebuah perjalanan cinta Azwar dan Fauziah. Dua sejoli yang telah lama saling menyukai dan memendam perasaan akhirnya menjadi pasangan yang  dianugrahi “syurga” oleh Allah. Sebuah perjuangan cinta yang penuh dengan ikhtiar menjaga kesucian dan hati. Cinta tak selalu harus diawali dengan kebersamaan. Cinta bisa diawali dengan memendam rasa cinta karena niat menjaga kesucian untuk Allah sebelum mampu. Lalu, mengambil kesempatan ketika telah mampu. Cinta yang telah dipraktekkan oleh dua insan ini. Cinta yang juga pernah terjadi di zaman penuh kemenangan dalam pimpinan Rasulullah Muhammad SAW. Menjaga hati dan mengembalikan cinta tetap padaNya.

Kini Azwar telah menyelamatkan maruah Fauziah. Pekerjaan dan tanggung jawabnya telah menghijab kemungkinan aurat dan kehormatan Fauziah tercemar. Selain itu, ia juga berpeluang menyebar dakwahnya kepada keluarga Fauziah lain, yakni Ibu tiri semata wayangnya. Sebuah tugas berat bagi seorang muslim.

Semoga selalu di jalan Allah, insya Allah.

 Oleh: Denny Tirta Lenggana, Pemalang Jawa Tengah

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

[Cerpen] Allah, Kapan Giliranku?

[Cerpen] Lima Hadiah Untuk Aisyah

Related posts